Monday, April 16, 2012

0 Lubang Jarum Ke-3


"Apakah Anda mencintai timnas Indonesia?"
"Anda pikir untuk apa saya datang kesini?"

Petikan percakapan itu hadir di sela-sela Acara BBM Show yang disiarkan Indosiar. Saat itu Alfred Riedl datang sebagai tamu dan menjawab beberapa pertanyaan di acara itu. Seperti biasa, sikapnya yang dingin dan mahal senyum masih terlihat jelas di wajahnya yang kian menua.

PSSI versi La Nyalla Mattalitti (LNM) melakukan langkah cepat usai kongres KPSI dengan memasukkan nama Riedl dan Rahmad Darmawan untuk mengisi pos pelatih timnas senior dan U-23. Indonesia yang sudah menjadikan Riedl dan istri sebagai tempat tinggal yang nyaman, ditambah kedekatannya dengan banyak pihak ketika berada di Indonesia menjadikan rencana PSSI versi La Nyalla itu bak gayung bersambut. Tak nampak sedkit pun kode penolakan dari pria Autria itu.

Tak mau ketinggalan, PSSI versi Djohar Arifin Husain (DAH) pun menunjuk arsitek tim Kebau Sirah Semen Padang, Nil Maizar sebagai pelatih kepala timnas senior. Ditambah lagi kebebasan untuk menyeleksi pemain termasuk mereka yang tergabung di ISL, liga yang pada rezim DAH ini dianggap sebagai breakaway league. Kedua PSSI ini tengah bersiap-siap untuk mengikuti turnamen Al-Nakba di Palestina, 13-23 Mei nanti.

Kita semakin gusar dan gundah saja melihat sepakbola kita. Kini kita punya 2 federasi sepakbola dan 2 tim nasional. Entah dimana lagi kita harus menempatkan konsentrasi. Padahall infrastruktur masih minim, pembinaan usia dini masih jauh panggang dari api, federasi yang bertugas menyelesaikan masalah pun masih sedang mencari jati diri.

Lubang Jarum Ke-3

Kisruh sepakbola kita dimulai saat kepengurusan Nurdin Halid, dengan tema saat itu adalah statuta. Ya, saat itu statuta menjadi perdebatan panas dimana PSSI dituding melakukan penyelewengan. Timnas saat itu terancam gagal tampil di Piala AFF bahkan bisa-bisa dikenakan larangan tampil di kancah internasional akibat keributan pengurus, dualisme kompetisi, serta campur tangan pemerintah. Namun rintangan mampu kita tebas, timnas berlaga di Piala AFF dan kemudian rezim Hurdin Halid pun tumbang.

Singkat cerita, DAH naik singgasana PSSI. Hari itu adalah hari Sabtu, dan pada hari Rabu ia langsung membuat publik terhenyak ketika memecat Riedl. Keputusan yang membuat banyak orang berang mengingat Riedl telah kadung menjadi pujaan. Dampak memang tak terasa karena timnas mampu melangkah ke putaran kualifikasi Piala Dunia 2014. Walau pada akhirnya timnas kita babak belur dikalahkan Bahrain 10-0 pada laga terakhir kualifiasi grup.

Belum genap setahun, PSSI kisruh lagi. Kali ini masalah format dan peserta kompetisi yang menjadi pemantik api. Tak kunjung ketemu titik ekuilibrium, muncullah dualisme kompetisi. Seperti ketika era NH, pelakunya masih sama yakni IPL dan ISL. Hanya saja kali ini IPL berada ditangan penguasa sehingga dianggap liga yang legal dan ISL sebaliknya. Lagi-lagi, media menghembuskan berita tak sedap bahwa timnas U-23 akan dilarang tampil di SEA GAMES 2011 dimana Indonesia menjadi tuan rumah penyelenggaranya. Dan lagi-lagi, kita lolos dari lubang jarum untuk yang kedua kalinya.

Piala AFF 2012 akan menjadi 'cobaan' pertama bila sanksi FIFA benar-benar datang dalam waktu dekat. Lantas geliat apalagi yang akan dilakukan PSSI? Lobi tingkat tinggi seperti yang telah dilakukan sebelum-sebelumnya? Yang pasti, kisruh PSSI kini jauh lebih panas ketimbang sepakbola itu sendiri.

Saturday, March 10, 2012

0 Football Manager

Jujur saja, ini adalah game yang paling monoton yang pernah saya mainkan, dan juga diamini oleh beberapa gamer yang saya temui di dalam beberapa forum FM. Tapi seakan mengandung sihir, game ini tak pernah bosan untuk dimainkan. Bagi saya, game ini bisa menyalurkan kegilaan pada sepakbola, bisa mengaplikasikan taktik klub-klub favorit, hingga menjadi 'bahan ajar' untuk meluaskan pengetahuan akan sepakbola.

Sebagai contoh, kita bisa tau track record pemain A mulai dari youth team hingga klub dimana ia sekarang berada. Kita juga bisa menciptakan fantasi kita pada tim favorit, semisal menginginkan Ibrahimovic berduet dengan Benzema, atau memasukkan pemain legenda dalam jajaran staff. Bahkan, kita juga bisa bertingkah kontroversial seperti Jose Mourinho dengan melancarkan serangan-serangan kepada pelatih lain.

Mungkin terasa biasa saja atau bahkan hambar bagi rekan-rekan yang belum pernah memainkan game ini, persis seperti yang saya alami 4-5 tahun lalu. Namun setidaknya sihir dari game ini dirasakan langsung oleh pengurus klub Inggris, Everton. Pada 2008 lalu Everton meneken kontrak dengan Sport Interactive selaku pemilik dari game ini. Everton menggunakan database pada FM untuk dijadikan acuan scouting pemain-pemain muda. Masuk akal memang, karena parameter-parameter yang ada di FM cukup mewakili bahkan kompleks terhadap skill individu pemain.

FM mempercayakan database yang mereka punya berdasarkan 1000 pemandu bakat di 50 negara untuk memonitor sekitar 20.000 tim. Dan dengan kerja sama ini Everton akan mendapatkan exclusive access dari database FM.

Salah satu bukti paling sahih keakuratan data FM adalah ketika Wayne Rooney dan Lionel Messi dilabeli wonderkid dan diprediksi akan menjadi pemain termahsyur didunia. Dan sekarang, prediksi itu memang benar terbukti.


Semoga saja FM menambah jumlah scout-nya di Indonesia, karena bagi saya data yang diberikan belum begitu akurat seperti aslinya. Mulai dari pemain hingga kompetisi. Namun ada juga beberapa gamer yang melakukan improvisasi sendiri dengan menambah patch kompetisi-kompetisi lokal dan regional. Mungkin Indonesia bisa menjadi negara pertama yang teken kontrak dengan Sport Interactive untuk membantu kinerja pelatih tim nasional. Bahkan, bila mungkin, juga dimasukkan data mengenai pengurus asosiasi sepakbola. Seperti kemampuan mengurus liga, merangkul golongan lain, kerentanan terhadap korupsi, hingga kemampuan mengakhiri konflik.

Bagaimana, Pak Djohar, Menpora, KONI, dan kelompok yang merasa selalu tertindas?

Friday, March 9, 2012

0 Milan Minimalis

Kata-kata minimalis awalnya dikenal dalam dunia seni, yang dicirikan dengan kesederhanaan baik dalam bentuk dan isi. Kini, sejak tahun 2000-an konsep minimalis ini lebih kerap terdengar dalam bidang usaha properti terutama rumah. Rumah minimalis yang sebenarnya sudah dikenal sejak tahun 1920 ini menjadi pilihan baru bagi konsumen. Konsep ini bisa juga disebut sebagai aksi protes atas desain-desain lama yang dikenal boros dan cenderung meninggalkan aspek efektifitas bahan baku.

Yang diutamakan dari konsep ini ialah sifat fungsional dan esensialnya, sehingga walaupun banyak ornamen yang dihilangkan tidak akan menjadikan rumah minimalis sebagai rumah yang serba kekurangan.

Konsep minimalis ini pula yang dalam beberapa tahun terakhir digunakan Milan sebagai cara membangun kekuatan tim. Kebijakan ini sempat dipertanyakan para tifosi karena sejak 2007 Milan mandek prestasi. Barulah pada musim 2010/2011 kerja keras jajaran klub membuahkan hasil berupa scudetto ke-18.

Pada musim panas 2010 Milan memang sedikit lebih meningkatkan pengeluaran mereka untuk membeli pemain yang dibanderol tinggi seperti Irahimovic dan Robinho. Total pengeluaran Milan saat itu adalah
€28.500.000, dan berbuah trofi scudetto. Itupun masih dikurangi total pemasukan Milan dari penjualan pemain sebesar €18.500.000. Bandingkan dengan Juventus yang total pengeluarannya €56.450.000 dan pemasukan €31.975.000. Hasilnya? Jatah Europa League pun tak mempu mereka rengkuh.

Bila mau menandingi dengan kekuatan transfer liga-liga lain, Real Madrid mengeluarkan €81.000.000 dan Manchester City €145.450.000. Namun diakhir musim adalah Barcelona dan Manchester United yang keluar sebagai kampiun yang masing-masing mengeluarkan €69.500.000 dan €26.800.000.

Galliani dan Financial Fair Play

Efektifitas menjadi kunci dari transfer Milan. Pemain utama dari kebijakan ini adalah CEO Milan, Adriano Galliani. Ialah yang mengatur segala macam bentuk transfer Milan, termasuk pelatih. Dan syukurnya Milan mempunyai 'pelayan' loyal seperti Galliani. Selain dikenal sebagai negosiator ulung, ia pun jeli dalam melihat kebutuhan tim.

Ketika membeli Ibrahimovic dan Robinho Milan ibaratnya mendapat durian runtuh. Harga kedua pemain ini sedikit lebih murah dari harga awal yang dirilis Barcelona dan Manchester City. Galliani dengan jeli memanfaatkan kondisi Ibra dan Binho yang tak lagi betah di Spanyol dan Inggris. Berbekal tanah Itali yang mempunyai kesan manis bagi Ibra, tawaran peminjaman plus opsi pembelian akhirnya tak mampu ditolak Barca. Dan kondisi Milan yang selalu menjadi rumah kedua bagi para pemain Brazil akhirnya meluluhkan Manchester City untuk melepas Robinho.

Jangan lupakan pula 'Prince' Boateng yang dibeli dengan cara yang aneh, tetapi berandil besar dalam langkah Milan. Ia dibeli Genoa ketika klub lamanya, Portsmouth bangkrut dan terdegradasi. Namun, tak sempat menginjakkan kakinya di markas Genoa, ia langsung dipinjamkan ke Milan dengan opsi pembalian diakhir musim.

Musim ini, kejelian Galliani kembali membuahkan hasil. Noccerino diboyong ke San Siro "cuma" dengan €500.000, Mexes didapatkan dengan gratis, dan Aquilani didapatkan dengan pinjam plus klausul pembelian setelah memainkan 20 laga. Konstribusi ketiganya sejauh ini sangat memuaskan, terutama pos yang mereka isi adalah pos dimana selama ini nama-nama uzur seperti Gattuso, Seedorf, dan Nesta bermain.

Ketika Milan dicap sebagai sebuah panti jompo yang bermaterikan pemain uzur, langkah penyegaran skuad dilakukan Galliani. Tak seperti klub-klub lain yang cenderung membeli pemain baru untuk mengisi pos-pos pemain tua, langkah pertama Milan adalah merekrut Max Allegri. Secara pengalaman, Allegri tak mempunyai track record bagus. Klub-klub yang ditanganinya pun cuma tim-tim medioker. Tetapi yang membuat Galliani kepincut adalah kemampuan Allegri dalam memaksimalkan pemain muda.

Dengan memberikan "modal" seperti Robinho dan Ibrahimovic, Allegri akhirnya mampu membawa kejayaan bagi Milan. Tidak hanya itu, pemain dari tim primavera Milan seperti Merkel dan Strasser pun diberikan kesempatan mencicipi beberapa laga Milan di Serie-A. Musim panas 2011 Milan pun dengan yakin membeli El Sharaawy dari Genoa yang masih belia. Dan hasilnya dibawah olesan Allegri, El Sharaawy mampu menunjukkan kelasnya.

Langkah yang selama ini dilakukan Milan nampaknya akan diikuti klub-klub Eropa lainnya.
Saat ini tercatat 50% klub belanja melebihi pemasukan mereka, dan akhirnya mereka merelakan klub mereka terjebak hutang dan akhirnya bangkrut. Maka, pada 2009 EUFA mencetuskan ide dengan mengeluarkan regulasi Financial Fair Play, dimana klub-klub akan dilarang mengeluarkan dana untuk keperluan belanja pemain melebihi pemasukannya. Financial Fair Play direncanakan akan mulai diberlakukan kepada klub-klub Eropa selepas pagelaran EURO 2012. Dan pemilik AC Milan, Silvio Berlusconi sepertinya juga tak ingin merusak hubungan baiknya dengan Platini selaku ketua EUFA dengan melanggar Financial Fair Play ini.

Tuesday, February 21, 2012

0 Anglo Italian

Bila mengacu pada data pengoleksi trofi Liga Champions, La Liga Spanyol pantas untuk membusungkan dada karena hingga saat ini mereka masih mengungguli Itali (11) dan Inggris (12) dengan 13 trofi. Namun malangnya bagi pencinta La Liga, 13 trofi tersebut hanya tersebar ke dua klub, Madrid dan Barcelona. Berbeda dengan Itali dan Inggris yang pendistribusian trofi lebih dari dua klub. Ini megindikasikan bahwa kekuatan tim-tim Itali dan Inggirs jauh lebih merata ketimbang Spanyol. Berangkat dari data ini pula mengapa setiap pertemuan tim-tim Inggirs dan Itali selalu ketat dan diwarnai tensi tinggi. Probabilitas tim dari Itali dan Inggris bertemu memang lebih besar ketimbang dengan tim-tim dari Spanyol. Saking panasnya tiap pertandingan yang mempertemukan wakil Inggis dan Itali hingga media-media disana menjulukinya sebagai Anglo-Italian.

Setidaknya hingga musim 2010/2011, Anglo-Italian telah digelar sebanyak 76 kali, dengan 35 kemenangan untuk Inggris, 22 untuk Itali, dan 19 partai sisanya berakhir imbang. Musim ini Anglo-Italian kembali mentas kala Milan bersua Arsenal, dan Napoli kontra Chelsea. Bagi Milan, musim ini mereka membawa misi untuk mengakhiri kutukan tak lolos dari babak 16 besar, yang sialnya selalu tim Inggris yang menamatkan kisah mereka di Liga Champions selama 3 musim berturut-turut. Mulai dari Arsenal (2007/2008), MU (2009/2010), dan Tottenham Hotspur (2010/2011).

Meski tak punya unsur rivalitas tinggi dengan tim Inggris, Napoli datang ke panggung Liga Champions musim ini untuk membuktikan bahwa kejayaan Napoli telah kembali seperti pada era Maradona. Mereka tentu ingin mengikuti kisah Tottenham Hotspur musim lalu yang mampu lolos dari 16 besar meski berstatus tak diunggulkan sejak awal musim, sekaligus membalas dendam karena lawan yang disingkirkan Tottenham musim lalu adalah AC Milan.



Anglo-Italian Clash
Dan sekarang mari berbicara tentang Anglo-Italian Clash, tentang apa saja yang melatar belakangi sengitnya persaingan Inggris-Itali. Baik Milan-Napoli ataupun Arsenal-Chelsea boleh saja saling sikut di liga domestik, tapi bila konteknya Liga Champions, nasionalisme lah yang utama. Seperti ucapan Adriano Galliano saat Inter bertemu Muenchen di final Liga Champions 2009/2010,"Hanya orang bodoh yang tidak mendukung Inter Milan memenangi Liga Champions!". Padahal seperti yang kita ketahui, Milan dan Inter adalah saudara lama yang tak pernah akur baik didalam dan diluar lapangan.

Tim-tim Serie-A bermain dengan basis kontrol, teknik, dan full taktik. Sepakbola Itali masih menganut catenaccio karena itu sudah menjadi budaya bagi mereka walau sudah jauh berkembang dari era 60-an, era dimana Helenio Herrera memperkenalkan catenaccio bersama Inter Milan.

Soal akting bermain dan fungsi, tak ada yang bisa menandingi bek-bek Itali. Mereka selalu memperlihatkan ruang permainan ketimbang bagaimana cara mengumpan. Mereka lebih memilih memelototi gerakan lawan ketimbang membuka serangan. Dan bagi mereka mengontrol permainan dan lawan (uoma l'contro uomo) lebih utama daripada bermain cantik dan agresif. Pola ini jelas membutuhkan teknis dan seni yang tinggi. Sepakbola Itali tak berobsesi untuk bermain ofensif dan menciptakan banyak peluang. Untuk apa susah-susah membuat peluang hanya untuk satu gol? Itulah dasar pemikiran calcio! Ibarat kata, Itali memainkan sepakbola seperti pecatur Anatoly Karpov yang kuat bertahan, introvert, dan menyerang secara sistematis.

Berbeda dengan Inggris yang pola permainannya kental dengan kekuatan, kecepatan, dan pengendalian. Gaya bermain tim-tim Inggris sempat dicibir karena memainkan pola-pola yang terlalu spekulatif seperti long balls, direct passes, crossing, dan kick 'n rush. Pengamat sepakbola bahkan menamakan itu sebagai sebuah fenoma, tentunya sebagai sebuah sindiran. Soal tugas dan fungsi bermain, sepakbola Inggris membaginya sesuai dengan postur tubuh dan kemampuan pemain. Ada yang menggiring bola, menghadang lawan, hingga mengganggu kiper lawan.

Ketika bermain, tim-tim Inggris tak ingin menjadi budak hasil akhir, acuannya adalah efisiensi terhadap waktu. Sedangkan kunci bagi tim-tim Itali adalah efektifitas, mengacu kepada hasil akhir.

Kerasnya Anglo-Italian juga berdampak ke sisi non teknis. Liga Inggris dituding terlalu mementingkan sisi bisnis daripada prestasi timnas. Liga sebagai panggung hiburan ditaburi pemain-pemain bintang dari luar Inggris demi mementingkan tuntutan fans dan ambisi klub semata.Bila sebuah klub sepakbola umumnya selalu bermain dengan 12 orang, plus satu orang yang mereka sebut suporter, di Inggris terdapat pemain ke-13 yang mereka sebut uang! Begitu berdampaknya "pemain ke-13" ini hingga pada musim 2008/2009, 3 pertempuran Anglo-Italian semuanya dimenangi Inggris.

Musim 2008/2009 menjadi musim yang pahit bagi sepakbola Itali. Itali merasa dianiaya, dan bahkan pada kolom surat kabar disana tertulis: "Sepakbola kita telah dihancurkan Inggris". Sebab musababnya jelas, Inggris menciptakan ketimpangan dari sisi finansial dengan maraknya investor asing yang masuk kesana dan menjadikan klub bebas membeli pemain, sementara Itali sedang terlilit krisis ekonomi. Tak pelak Galliani pun menuding krisis ekonomi menjadi biang keladinya, namun Mourinho mengomentarinya dengan kalimat yang tentunya kontroversial,"Bagaimana mau bersaing? Klub Itali bermain 90 menit seminggu sedangkan Inggris 12 jam seminggu!"

Inggris selalu mengklaim sebagai tanah lahirnya sepakbola, namun sedikit cerita tentang Marco Polo mungkin bisa menjadi pertimbangan untuk mengamini atau tidak pernyataan pihak Inggris itu. Saat Marco Polo kembali ke Venezia usai berpetualang dari Cina, India, hingga Sumatra. Ia tak hanya membawa mi yang kemudian diubah menjadi spagheti, tetapi juga kisah tentang Tsu Chu yang membuat Giovanni Bardi bisa menulis dasar-dasar calcio pada 1580. "All roads may yet lead to Rome", banyak jalan menuju Roma. Tapi, mau dari mana saja untuk menuju Roma, tak ada bukti bahwa Itali belajar sepakbola dari Inggris. #

Monday, January 30, 2012

0 Sinetron PSSI

Sinetron adalah akronim yang lebih serig kita kenal untuk menyingkat istilah sinema elektronik. Sinetron ini dikenal soap opera dalam bahasa Inggris ataupun telenovela bila di Spanyol. Umumnya, sinetron bercerita tentang kehidupan manusia sehari-hari, lengkap dengan konflik-konflik sebagai penghias alur ceritanya.

Biasanya, kisah dari sinetron cenderung memberikan ketegangan sepanjang kisahnya, dan selalu ditunda kelanjutanya untuk episode berikutnya. Tak jarang, sinetron yang menghiasi layar televisi kita dibubuhi edisi 1, 2, 3, dan seterusnya. Terbukti sinetron saat ini masih menjadi pendongkrak rating suatu stasiun televisi sekaligus menunjukkan masyarakat kita menggemari drama.

Tanpa disadari, PSSI sebagai organisasi sepakbola tertinggi di Indonesia menyugukan kita episode-episode yang penuh ketegangan. Saat Nurdin Halid masih memangku jabatan ketua umum PSSI, muncul Arifin Panigoro dan Jorge Toisutta dari kubu Jenggala dengan misi mengakhiri rezim Nurdin yang ditengarai penuh praktek-praktek kotor. Kubu Jenggala yang pro perubahan memulai kampanyenya dengan membeberkan fakta-fakta yang sekian lama diburamkan kubu status quo.

Digadang-gadang bakal memimpin PSSI, Arifin dan Jorge justru tersangkut aturan FIFA. Arifin terbukti terlibat dalam LPI yang oleh FIFA dianggap sebagai breakaway league, sedangkan Jorge tersangkut aturan bahwa ia masih aktif sebagai anggota TNI. Penunjukan Agum Gumelar sebagai ketua Komite Normalisasi berakhir dengan terpilihnya calon 'alternatif' dari kubu Jenggala, Djohar Arifin Husin.

Dualisme Kompetisi


Pergantian kepengurusan bukan berarti drama ini akan berakhir. Déjà vu dualisme kompetisi kini kembali tersaji dan pelakunya masih barang lama, IPL dan ISL. Diikutsertakannya klub-klub peserta IPL versi Arifin Panigoro membuat klub-klub peserta ISL berang. Bagi mereka, tidaklah adil klub-klub yang semula berada di kompetisi terlarang dengan mudah diberikan 'ampunan' dan diizinkan mengikuti kompetisi yang baru dan legal. Selain itu, jumlah peserta yang membengkak pun akan mempengaruhi kondisi klub terutama fisik pemain, apalagi bagi klub yang harus berlaga dikompetisi Asia.

Kalau boleh jujur, PSSI tak perlu membubarkan PT Liga Indonesia selaku operator ISL karena itu berarti PSSI melakukan pekerjaan mulai dari nol. PSSI seharusnya memberikan sanksi kepada klub-klub peserta IPL dan menjalankan kompetisi sesuai format yang sudah ada. Diikutsertakannya klub-klub peserta IPL malah menguatkan anggapan bahwa Djohar Arifin adalah boneka yang terus di dikte oleh kubu Jenggala pimpinan Arifin Panigoro.

Negara tetangga kita, Vietnam, juga pernah berada pada kondisi yang sama. 7 klub peserta V-League, yakni Hoang Anh Gia Lai, Dong Tam Long An, Hoa Phat Hanoi, Hanoi ACB, Vissai Ninh Binh, Khatoco Khanh Hoa, dan Thanh Hoa memohon agar VFF (Federasi Sepakbola Vietnam) mengizinkan mereka keluar dan berlaga di Vietnam Super League. Yang mendasari keputusan itu adalah tidak profesionalnya penyelenggaraan liga dan rawan pengaturan skor. Meski pada awalnya ditolak, akhirnya VFF merestui lahirnya kompetisi yang dikelola perseroan.

Kondisi di negri Paman Ho itu tentunya tak seperti di negri kita dimana dualisme kompetisi erat hubungannya dengan kekuasaan. Disana ide untuk melahirkan kompetisi baru mutlak dari klub peserta liga yang merasa harus dilakukan perubahan. Namun yang patut kita cermati adalah bagaimana mereka sukses melakukan mediasi hingga akhirnya VFF melunak dan Vietnam Super League pun siap digulirkan.

Di Indonesia, akar dari dualisme kompetisi ialah konsep liga tandingan yang dicetus Arifin Panigoro dalam usahanya menurunkan Nurdin Halid dulu. Dan siapa sangka, kini ketika usahanya itu berhasil, IPL menjadi senjata makan tuan yang justru akan menggulingkan Djohar Arifin bila tak kunjung mendapatkan win win solution.

PSSI boleh saja beranggapan bahwa IPL tak ubahnya seorang bayi yang telah lahir dan tak mungkin ditelantarkan. Namun, bukannya ISL sudah terlebih dahulu lahir dan bahkan jauh lebih dewasa ketimbang IPL? PSSI bukanlah organisasi yang bertugas melahirkan banyak kompetisi ataupun regulasi, tapi PSSI bertugas untuk melahirkan pemain-pemain yang akan mempersembahkan trofi bagi Indonesia.

Proses mediasi guna mencari jalan tengah tentu tak akan sukses bila kedua belah pihak masih keuh-keuh mempertahankan apa yang menurut mereka benar, sama halnya dengan KLB yang diklaim satu-satunya jalan untuk menyudahi drama dualisme kompetisi. Tanpa ada pihak yang siap mengalah dan legowo, kita harus bersiap menyambut sanksi FIFA apa pun bentunya. Yang jelas, akan menjadi kerugian bagi seluruh pencinta olahraga asal Inggris ini.

Sinetron hampir selalu menjual mimpi bagi penonton, pun dengan PSSI yang terus-menerus menjual mimpi bagi pencinta sepakbola. Kita hanya akan bisa bermimpi melihat timnas mengangkat trofi Piala AFF, apalagi berlaga di piala dunia. PSSI tak ubahnya quicksand atau pasir isap yang menyedot perhatian dan energi kita, terlebih lagi konflik ini sebenarnya menyedot banyak dana yang justru terbuang sia-sia. Patut diingat, sepakbola adalah cabang olahraga dengan penggemarnya paling banyak, anggaran dananya paling besar, tetapi hingga kini masih nihil prestasi.

Entah kapan kita bisa melihat sepakbola negri ini sebagai pemersatu bangsa dan mengakhiri pertikaian seperti yang dilakukan Nelson Mandela dan Mahatma Gandhi. Satyagraha, salah satu filosofi yang dicetuskan oleh Gandhi, artinya kurang lebih kekuatan kebenaran, dimana perlawanan yang tidak melulu harus ditempuh dengan jalan kekerasan. Benih-benih inilah yang digunakan Mandela untuk mengakhiri penindasan berdasarkan warna kulit yang terjadi di Afrika Selatan melalui sepakbola. Gandhi dan Mandela paham betul bahwa sepakbola bukan soal invidu ataupun kelompok, tapi tentang kerja sama tim.

Sikap pemegang kepentingan di tubuh PSSI yang terus adu argumen menunjukkan siapa mereka sebenarnya, bahwa mereka bukan orang-orang yang mengerti dan paham betul nilai apa saja yang ada dalam sepakbola. Mereka tidak tau apa makna dari sodoran tangan seorang pemain kepada pemain lain yang terjatuh setelah terkena tackling keras, mereka juga tidak tau makna dari minute of silence yang dilakukan sesaat sebelum pertandingan dimulai. Bahkan mungkin, mereka tidak tahu mengapa sepakbola itu dimainkan oleh 11 orang! Yang mereka tahu hanyalah kepentingan yang mereka bawa, entah itu untuk kelompoknya ataupun untuk individu mereka sendiri.

Seperti peribahasa, dua gajah bertarung pelanduk mati ditengah-tengah. Mereka yang terus bertarung kian membawa sepakbola negri ini yang berada ditengah-tengah menuju kematian layaknya sang pelanduk. Namun, namanya juga sinetron yang terus membawa kita bermimpi dan berandai, saya ingin mengajak kita semua berandai bagaimana bila suatu saat mereka, dua kubu yang bertikai, saling bekerja sama dan bersinergi membangun sepakbola tanah air? Kira-kira bagaimana nasib sang 'pelanduk'? Simpan saja jawabannya untuk kita sendiri.

Saturday, December 31, 2011

0 Negri di Awan

Bak takdir, dipenghujung 2011 ini masalah negri kian mengalir. Salah satu yang harus mendapat sorotan tajam adalah kekerasan yang pecah diberbagai penjuru negri ini. Mesuji, Papua, dan Bima jelas sebuah sentilan bagi negara yang konon dibangun dari keramah-tamahan ini. Indonesia seakan menjadi ladang subur bagi tumbuh kembangnya kekerasan.

Alam yang kaya toh tak menjadikan rakyat di negri ini hidup makmur bak konglomerat, justru mengarah ke nasib yang melarat. Serasa tak ada lagi tempat yang aman dan nyaman untuk disinggahi, semua berkecamuk dan kehausan akan kasih. Banyak pemberontak yang lahir, dan bisa dimanfaatkan pada segala kondisi. Mulai dari usaha pengalihan isu, usaha penggulingan rezim, hingga politik pencitraan.

Masalah pemberontakan ini juga terjadi dalam sekup yang lebih kecil. Didunia sepakbola hal ini terasa sebagai bumbu penyedap ketatnya persaingan. AC Milan, kklub favorit saya ini punya pengalaman indah mengenai pemberontak atau bad boy. Oia, sebaiknya saya awali kisah tentang Milan Lab. Dalam 5 kali pergelaran final Liga Champions Eropa, Milan berhasil menapaki final sebanyak 3 kali (2003, 2005, dan 2007) dan 2 diantaranya mereka pulang sebagai kampiun. Bukan catatan yang mengagumkan memang, mengingat Barcelona dan MU pun mencatat statistik yang lebih baik. Namun yang menjadikan itu sebagai pencapaian yang hebat adalah karena Milan melakukannya dengan rataan usia pemain diatas 30 tahun. Usia dimana pemain sepakbola profesional biasanya mulai mengalami penurunan kualitas.

Milan Lab lah yang diklaim telah memuluskan langkah klub kepunyaan Silvio Berlusconi ini. Disana, pemain yang rentan cedera dan telah mengalami penurunan performa akan dipantau tingkat kebugarannya. Peralatan tercanggih juga turut melengkapi Milan Lab sehinnga mampu meminimalisir cedera panjang pemain. Paolo Maldini, Marcos Cafu, Jaap Stam, hingga Nelson Dida telah merasakan magisnya sentuhan Milan Lab hingga mereka mampu menunjukkan performa yang stabil diusia senja.

Kini Milan Lab seakan mempunyai spesialisasi baru sebagai karantina para bad boy, yang diawali dengan hijrahnya pemain-pemain seperti Zlatan Ibrahimovic, Kevin Prince Boateng, dan Robinho ke Milan. Alih-alih akan melahirkan banyak problem bagi klub, trisula maut itu justru menujukkan andil besar dalam usaha membawa gelar scudetto ke Milanello.

Ibrahimovic tercatat berulah ketika dirinya berseragam Barcelona, begitu pula dengan Robinho yang ngotot ingin pindah dari Manchester City. Prince Boateng? Lahir dari kehidupan keras di jalanan dan harus gonta-ganti klub karena sering membuat onar dan emosinya yang labil diatas lapangan. Datang ke Milan pada 2010, ketiganya mampu melupakan kelamnya masa lalu diklub sebelumnya. Singkat cerita, Milan Lab seakan mampu mengubah karakter pemain dan menjadikan Milan bagai rumah yang nyaman bagi para pemain. Bahkan ketika Leonardo menyeberang ke kubu Inter Milan sebagai pelatih, jajaran pelatih dan pemain Milan pun masih menaruh respek dan menyambutnya dengan hangat ketika bertandang ke stadion San Siro.

Terkait dengan rumor kedatangan Tevez, yang juga seorang bad boy, menarik untuk ditunggu apakah Milan Lab mampu mengubah karakter pembangkannya. Bila Milan Lab saja mampu mengubah karakter keras pemain yang kerap membuat kegaduhan, mengapa di negri ini tak mampu mewujudkan kondisi yang tenteram bagi warganya. Padahal, sopan santun dan keramahan merupaka elemen penyusun utama setiap warga negara Indonesia. Semua ini bukan karena karakter, tetapi karena keadaan. Keadaan dimana mereka harus tetap bertahan hidup, melawan yang merenggut hak mereka, dan kekerasan menjadi makanan yang pas untuk mengisi kekosongan perut mereka.

Masih adakah negri di awan itu, dimana kedamaian menjadi istananya?

Wednesday, October 19, 2011

0 UCL Matchday 3

Postingan ini memang telat, karena akan mengulas prediksi saya mengenai beberapa pertandingan yang melibatkan tim-tim top Eropa yang berlaga di Liga Champions Eropa. Tapi saya berani jamin, bahwa prediksi ini sudah saya buat sebelum kick off pertandingan dimulai, dan akan saya tampilkan juga hasil pertandingan tadi malam. Yah, siapa tau bisa jadi kerjaan sampingan, bahasa kerennya konsultan.

1. Napoli vs Bayern Muenchen.
Ulasan: Meski berjaya di era 90-an dengan Maradona sebagai pemain andalannya, kehadiran Napoli di pentas Liga Champions Eropa kali ini masih berlabel tim pendatang baru. Komposisi skuat yang mereka punya sebenarnya cukup mumpuni, tapi misi untuk mendapatkan poin di setiap laga kandang tampaknya lebih realistis. Belum lagi di Serie-A mereka berambisi besar untuk meraih scudetto. Sedangkan Muenchen musim ini datang dengan ambisi menggondol trofi. Skor akhir 1-1 cukup adil untuk kedua tim.

Hasil pertandingan: 1-1

2. Otelul Galati vs Manchester United
Ulasan: MU tidak menurunkan pemain kunci seperti Rooney, Chicarito, dan Nani pada big match melawan Liverpool demi 3 poin melawan Otelul Galati. Apalagi pada 2 pertandingan sebelumnya MU hanya mampu meraih 2 hasil seri. Prediksi skor akhir 3-0.

Hasil pertandingan: 2-0

3. Real Madrid vs Lyon.
Ulasan: Madrid akan mampu menggelontorkan lebih dari 2 gol. Tapi menilik tim sekelas Real Betis dan Rayo Vallecano saja yang mampu mencetak gol ke gawang Casillas, tampaknya Lyon paling tidak mampu melesakkan minimal 1 gol. Prediksi skor akhir 3-1.

Hasil pertandingan: 4-0

4. Lille vs Inter.

Ulasan: melihat kondisi Inter yang tak kunjung membaik di pentas domestik, kemenangan tipis akan diraih Inter. Pemain yang memiliki kualitas ditas pemain Lille, serta ambisi untuk mengulang kejayaan 2 musim lalu akan melecut semangat pasukan Inter. Prediksi skor akhir 1-2

Hasil pertandingan: 0-1

5. Manchester City vs Villareal
Ulasan: City sulit untuk menang dengan skor besar melawan Villareal. Pertimbangannya adalah Villareal sedikit lebih berpengalaman ketimbang City, meskipun skuat Mancini sangat superior dari segi harga. Namun karena bermain didepan publik sendiri, City akan memastikan raihan 3 poin pertama. Prediksi skor akhir 2-0.

Hasil akhir: 2-1

Friday, October 7, 2011

0 Man Behind Trophies

Siapa bilang langkah sebuah klub sepakbola ditentukan 1 pelatih dan 11 pemain dilapangan? Hal ini tak berlaku dalam kamus klub-klub Serie-A. Prestasi-prestasi klub-klub Italia sangat bergantung kepada kepiawaian para petinggi-petinggi klub. Tak percaya? Berikut akan saya beberkan tentang sepak terjang Juventus dan AC Milan yang masing-masing sukses dipentas lokal dan Eropa.

AC Milan, klub yang lahir pada tahun 1889 ini sangat beruntung bisa mencantumkan nama Adriano Galliani dalam jajaran klub. Pria plontos ini adalah otak dari segala aktifitas transfer Milan. Ia mempunyai kemampuan menilai pemain layaknya seorang scout talent, dan dikenal sebagai negosiator ulung. Kedekatannya dengan pemilik klub, Silvio Berlusconi, menjadikannya sebagai tangan kanan PM Italia tersebut. Kendati hanya menjabat sebagai Wakil Presiden dan CEO AC Milan, segala keputusan akan bermuara kepadanya. Nama-nama seperti Andriy Shevchenko, Rui Costa, Filippo Inzaghi, Clerence Seedorf, Andrea Pirlo, hingga Ibrahimovic dan Robinho diyakini tak akan berlatih di Milanello jika bukan karena kelihaian Galliani. Pun halnya dengan keputusan menunjuk Carlo Ancelotti dan Massimiliano Allegri sebagai pelatih.

Belum lagi berbagai kebijakan aneh yang ia terapkan ketika dalam bernegosiasi. Melihat retaknya hubungan Ibrahimovic dan Pep Guardiola, Galliani langsung memasukkan proposal ke klub Catalan itu. Meski dana yang dimiliki terbatas, tak menggetarkan hasrat Galliani untuk mendapatkan tanda tangan Ibra. Dasar negosiatos ulung, opsi peminjaman dengan pembelian diakhir musim disepakati kedua belah pihak. Lain halnya denganBoateng. Milan tak punya dana untuk mendatangkan pemain asal Ghana ini, namun kedekatan Milan dengan Genoa dimanfaatkan betul oleh AC Milan. Galliani berhasil merayu kubu Genoa untuk membeli Boateng tetapi kemudian langsung dipinjamkan ke Milan, dan akan dibeli diakhir musim. Singkat cerita kedua pemain ini lah menjadi tulang punggung Milan meraih Scudetto 2011.

Mengawali musim 2011/2012, Galliani tak berhenti untuk memburu pemain, lagi-lagi dengan dana yang terbatas. Walau tak satu pun antara Ricardo Montolivo dan Thiago Motta yang berhasil digaet, skema apik telah disiapkan Milan, dan lagi-lagi dengan Genoa. Skema pertama, Milan akan membantu Genoa dalam membeli Alberto Gilardino, dan Genoa akan merekrut Montolivo yang langsung akan dipinjamkan ke Milan persis seperti kasus Boateng. Hal in dikarenakan Fiorentina mematok harga yang berbeda soal Montolivo, yang pasti lebih mahal untuk kubu AC Milan. Nah, skema kedua, Milan akan memanfaatkan Genoa untuk mendapatkan Thiago Motta dari Inter Milan. Sangat masuk akal, karena bila Milan yang langsung mengontak kubu Nerazzuri, sangat kecil harapan untuk mendapatkan tanda tangan Motta. Opsi ini sebetulnya hampir saja terealisasi, namun mendengar kabar ini Massimo Moratti buru-buru untuk membatalkan transfer Motta ke Genoa.

Romantisme Milan dengan Galliani juga terjadi di Juventus. Kali ini, pelakunya adalah Luciano Moggi. Sebelum dirinya di hukum tidak boleh aktif disepakbola seumur hidup, Juventus telah dibawanya ke singgasana tertinggi sepakbola Italia, plus dengan materi pemain-pemain mumpuni. Pavel Nedved, Camoranesi, Tacchinardi, Gianluigi Buffon, David Trezeguet, hingga Fabio Cannavaro didatangkan berkat kecerdikan Moggi. Pasca turun kasta ke Serie-B, praktis Juventus pun tak lagi mempunyai Direktur Teknik seperti Moggi. Tahun 2010, pers Italia mengabarkan bahwa Juventus ingin meminang Galliani dari AC Milan. Juventus sangat berambisi untuk mematahkan dominasi Inter Milan setelah kembali ke Serie-A, sebelum akhirnya Milan yang berhasil mematahkan gelar ke-6 berturut-turut Inter.

Nah, pilihan Juventus akhirnya jatuh kepada Bepe Marotta. Pria kelahiran Varese, 25 Maret 1957 ini "dibajak" dari Sampdoria. Jangan sepelekan kemampuan Marotta. Tahun 1995, Marotta bekerja untuk klub Serie-B, Venice sebagai Direktur Teknik, dan 2 musim kemudian Venice berhasil promosi ke Serie-A. Setelah itu ia dipinang Venezia, walau tak mampu mengangkat prestasi tim, Marotta tetap sukses dengan mengangkat karir Alvaro Recoba hingga menjadi pemain top Eropa. Tahun 2000, ia mengabdi untuk Atalanta, kali ini sebagai Manajer Umum. Atalanta mampu finis di peringkat ke-7 pada musim 2000/2001, dan posisi ke-9 pada 2001/2002. Prestasi luar biasa mengingat Atalanta adalah pelanggan zona degradasi.

Musim 2002/2003, ia pindah ke Sampdoria. Seperti klub-klub sebelumnya, prestasi Sampdoria terangkat. Diawali dengan mendatangkan Antonio Cassano dan Gianpaolo Pazzini dari Real Madrid dan Fiorentina, musim 2009/2010 Sampdoria berhasil finis diperingkat 4 dan berhak ikut kualifikasi Liga Champions. Seabrek prestasi inilah yang kemudian membuat Andrea Agnelli kepincut untuk meminangnya sebagai salah satu staf di Juventus. Dan pada penghujung musim 2009/2010 ia resmi bertugas untuk Juventus dan memulai membangun kerangka tim dengan membawa serta Luigi Del Neri dari Sampdoria sebagai pelatih. Begitu pentingnya peran seorang Marotta bagi Sampdoria terlihat ketika setahun ia hengkang dari Luigi Feraris, Sampdoria terdegradasi ke Serie-B!

Musim 2010/2011, Juventus belum mampu berbicara banyak dipentas lokal. Mereka bahkan tak mampu lolos ke zona Europa League untuk musim 2011/2012. Namun itu tak membuat Andrea Agnelli sebagai Presiden Juventus berhenti untuk melakukan revolusi. Ia tak segan-segan merogoh kocek dalam-dalam untuk Arturo Vidal hingga Mirko Vucinic, dan mempertahankan pilar-pilar lama seperti Bonucci, Chiellini, dan Milos Krasic. Dan jangan lupakan Antonio Conte, pelatih muda yang berhasil membawa Siena promosi ke Serie-A. Sejauh ini, Juventus telah menunjukkan tren positif dengan bertengger diperingkat pertama mengungguli tim-tim papan atas seperti AS Roma, Inter Milan, Napoli, hingga sang juara bertahan AC Milan yang kini masih berkutat dengan masalah kebugaran pemain. Saya sendiri sejak awal musim menempatkan Juventus sebagai unggulan pertama untuk meraih scudetto musim ini. Mereka sangat diuntungkan dengan hanya bermain di kompetisi lokal sementara kompetitor seperti Milan, Inter, dan Napoli harus berjuang dipentas Eropa. Belum lagi Milan yang musim ini tak lagi mematok Serie-A sebagai prioritas, melainkan Liga Champions.

Mungkin inilah alasan kenapa Inter Milan tak mampu mengungguli Milan dan Juventus sebelum calciopoli, karena mereka tak mempunyai orang yang mengerti kebutuhan tim seperti Moggi dan Galliani. Komentar pedas Moggi ada benarnya, ia mengatakan bahwa Inter Milan butuh calciopoli jilid II untuk kembali merengkuh scudetto. Milan dan Juventus sudah kembali ke trek juara mereka, dan ditambah Roma yang juga berambisi penuh setelah dibeli pengusaha AS, Di Benedetto. Jangan lupakan pula Napoli, klub yang ingin mengulang kisah manis mereka ketika masih bersama Maradona.

Dan kini kita tahu, siapa pria dibalik trofi-trofi mentereng Milan dan Juventus. Tanpa mereka, mungkin lemari trofi akan tak sesesak kini, seperti lemari trofi tetangga sebelah.
 

Gemahpedia Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates